Filosofi Hasrat


             Jikalau ingin sedikit bertanya, adakah kiranya segala sesuatu didunia ini yang tak dikendalikan oleh pasar? pasar sukses menciptakan kompetisi sehingga kebutuhan hidup manusia semakin murah, pasar mengendalikan pikiran dan cara orang bertindak. Namun demikian, toh tidak semua urusan ini bisa diserahkan kepada pasar. Misalkan masalah-masalah berkaitan rumah tangga, perkawinan, aktivitas ekonomi dan masalah masalah eksklusif yang dimiliki manusia, hanya manusia, sedangkan binatang tidak! Karena hewan tak terlibat aktivitas ekonomi.

           Bagaimana dengan persoalan hasrat? Benar memang, bahwa rupa-rupanya hasrat manusia juga dibentuk oleh oleh iklan itu. Iklan-iklan mengeksploitasi hasrat manusia sehingga mereka menjadi makhluk konsumtif, bagi kaum kaya mereka menyematinya dengan sebutan para borjuis yang bergaya“hedonisme”, Sebuah simbol bahasa yang tidak mungkin dipahami oleh mereka para jelata, kaum miskin papa. Siapa yang membentuk Hasrat? Hasrat adalah naluri alami setiap manusia, tapi naluri ini bisa dipermainkan dan dimanipulasi, kupikir sebutan ini lebih tepat! Hasrat dimanipulasi oleh iklan. Sedang iklan dibentuk oleh pasar.

         Nah, jikalau demikian, perdebatan akan menarik dengan sedikit pertanyaan;” Sejak kapankah manusia memiliki hasrat? Misalkan hasrat bercinta? What is Love? Konsep Cinta adalah tipuan evolusi sosial supaya seseorang merasa sah mengorbankan diri pada orang lain. Selebihnya Cinta adalah Omong kosong. Karena jika tidak ada tipuan evolusi sosial tentang gagasan cinta, maka orang tidak akan mau membentuk unit sosial terkecil yang disebut dengan pernikahan dan keluarga inti (rumah tangga). Supaya manusia mau bekerjasama dengan orang lain atas nama cinta, yang sebenarnya itu hanyalah gagasan omong kosong. Benarkah demikian?

          Marilah sejenak bertanya kepada hati nurani, jika anda mempunyai pacar anda akan hidup,tetapi jika anda tidak memiliki pacar apakah anda akan mati? No, anda tetep hidup, sekali lagi, Anda punya suami tetap hidup, dan orang diluar sana tidak mempunyai suami juga tetap hidup. Sehingga tanpa cinta manusia akan tetap hidup, lantas emngapa gagasan tentang cinta menjadi begitu sangat penting? Padahal sifatnya tak benar-benar penting untuk hidup dan kehidupan anda? Tentu, semata-mata karena jika tidak ada penggerak rumah tangga, maka kepada siapa lagi pergantungan hidup dan perlindungan  terhadap anak kecil manusia dikuasakan? Selain cinta, mari berbicara tentang diskusi yang selalu diminati segala umat, Sex!, what is Sex?

         Konsep Sex adalah tipuan evolusi fisik yang paling sukses. Karena jika manusia tidak mau melibatkan dirinya dalam aktivitas sexual, maka regenerasi makhluk hidup terputus. Padahal, memutuskan mengandung dan mempunyai anak itu rumit dan beresiko tinggi. Melahirkan anak pun beresiko tinggi, belum lagi resiko kemungkinan meninggal dunia. Maka dari itu, atas segala kerumitan yang dibebankan terhadap resiko aktivitas sex, Maka harus ada produksi pengetahuan baru melalui tipuan sexualitas, supaya bisa hamil dan melahirkan. Jika tidak dibumbui wacana seksualitas itu nikmat, maka siapakah yang mau mengorbankan diri untuk mengambil resiko dan menyapa kematian yang selalu bisa menjumpai setiap perempuan??

         Nah, demikianlah sehingga dikonstruksikan ide-ide besar bahwa sex itu enak, nikmat, dll melalui jualan gagasan lewat bukubuku akademis, hingga propaganda media massa (video bokep?). Manusia adalah produk evolusi. Hasil proses perubahan structural yang bersifat gradual agar sesuai dengan tantangan zaman. Setiap mkhluk hidup diberi drive yang sama untuk survive. Survive secara individual dan survive secara kolektif (spesies). Secara fisiologis, manusi memiliki kesamaan dg jenis spesies yg lain. What drive? Kemampuan untuk regenerasi. Agar tidak punah. Itulah sebabnya seorang ibu dan bapak melindungi anaknya agar lestari. Bener itu kasih saying, tapi lebih mendasar Bukti dive survival.

          Bisakah anda menjelaskan mengapa perempuan berani mengambil resiko mematikan diri sendiri saat melahirkan? Jawabannya simple, yahh..Untuk survive!. Manusia berbeda dg kelompok lain karena berfikir. Ini yang disebut oleh Revolusi kognisi. Manusia menjadi manusia karena di bisa mereproduksi simbol berupa komunikasi. Dari kemampuan memproduksi simbol lewat bahasa. Jadi bentuk revolusi kognisi adalah bahasa. Wujud bahasa adalah suara. Lantas gerangan apakah yang membedakan bahasa manusia dg spesies lain :? Bahasa! melalui bahasa, manusia bisa menciptakan realita imajiner. bahasa yang dikenal binatang sejauh ini hanya mampu merepresentasikan secara empiric. Binatang tidak bisa.

         Terdapat perbedaan fungsi bahasa bagi manusia dan makhluk
lainnya. Terhadap binatang, bahasa dipakai untuk mereprsentasikan sesuatu secara empiric. Bahasa pada manusia dipakai untuk membangun realitas empiric. Hasrat dipakai untuk menciptakan realitas imaginer. Revolusi kognitif inilah yang menjadi titik awal yg membedakan manusia dg makhluk hidup lain karena bisa menciptakan realitas imaginer melalui bahasa (manusia bisa berdiskusi, berdebat atau sharing gagasan).  Gagasan ini bisa disebar kepada orang lain. Benarkah demikian? Mari sedikit menelisik dengan mengambil perbandingan dengan makhluk lain yang mendekati spesiesnya, seekor monyet. Monyet tak memiliki kuasa untuk memproduksi wacana dan ide-ide karena monyet tidak bisa menciptakan realitas imaginer melalui gagasan.

          Manusia hidup dalam dua realita, yakni realita empiric dan realita imajiner. Sistem simbol yang dikenal manusia melalui bahasa memungkinkan manusia memiliki kemampuan menciptakan realitas imaginer. Realita obyektif yang dibikinkan realitas imajinernya, sebuah kemampuan mahadahsyat yang tak dimiliki makhluk lain. Perangkat bahasa membuat manusia mahir merangkai rangkai kata yang secara empiric tidak pernah ada didunia nyata (imaginer), tapi hebatnya, sesuatu yang imaginer tersebut bisa disebarkan dan diyakini keberadaanya oleh manusia lain, misalnya konsep cinta diatas. Kecerdasan inilah yang saya maksud berakar pada ketrampilan memproduksi bahasa, bahasa beranak pinak memproduksi wacana, wacana membidik dan menggerakkan orang untuk bersikap, tentu dengan dikontrol oleh media.

       Maka mutlak, manusia menjadi docile bodies (tubuh-tubuh yang patuh) terhadap jebakan wacana, tanpa resistensi, wacana-wacana tentang konsep tersebut diamini sebagai realita. realita realita semu (imaginer), dan mereka mempercayainya…lantas bagaimana dengan agama? Saya sangat meyakini bahwa “wahyu” adalah keniscahyaan, tapi agama bagiku adalah realitas imaginer, tak lebih bentukan manusia,,teks-teks itu siapa yang memproduksinya? Ahh sudahlah mari kita tutup kesesatan berpikir ini, ide-ide kritik terhadap “agama” itu selalu mengalami penolakan, tak boleh dikritik  Karena kesuciannya, atas nama iman. Sejatinya, bukankah gagasan “Iman” itupun sudah bagian dari realitas imaginer yang dicitakan dan dijual untuk diamini manusia,?,

Comments

Popular posts from this blog

GEGER TENGGER : PERUBAHAN SOSIAL DAN PERKELAHIAN POLITIK

INDIA UTARA MASA PRA-ISLAM

Highlight "The Textuality of Archive" by Andrew Prescott