Mengapa Tahun 1966 Presiden Soekarno Jatuh wibawanya
Faktor
Kejatuhan Soekarno di Luar Aksi Tritura
Didalam autobiografi presiden Sukarno
diceritakan bagaimana proses saling jatuh cintanya orang yang kemudian menjadi
presiden Republik Indonesia dengan isteri pak Sanusi, yakni Ibu Inggit
Ganarsih. Cerita rahasia yang diungkapkan secara terang-terangan oleh pelakunya
sendiri itu telah dikutip oleh L.E. Hakim dalam karangannya diharian kompas 17
Februari, yang Berjudul “ Presiden Soekarno, satu prototype manusia yang
interesant.”
“Proses itu bermula dengan saling
memperhatikan dan berakhir dengan perkawinan dengan lebih dahulu melalui
perzinahan dan perceraian...” Aku semakin mendekat dan mendekat dan pada suatu
malam datanglah puncaknya”. Padahal ia masih menjadi isteri Pak Sanusi dan Saya
masih Suami Utari.[1]
Proses diatas dapat pula kiranya
dijadikan gambaran tentang Jatuhnya presiden Soekarno didalam Rangkulan PKI.
Melalui Nasakomnya ia melakukan perjinahan dengan PKI, dalam hal ini ialah
mengkhianati niali-nilai pancasila.
Pada awalnya, Soekarno menganggap bahwa
Historis materialisme sebagai metode yang paling kompeten dalam menganalisa
sejarah, menganalisa perkembangan masyarakat. Soekarno beranggapan bahwa Beliau
dapat mengkombinasikannya dengan ajaran kepercayaan terhadap Tuhan yang maha
Esa, serta pengabdiannya yang murni terhadap tanah air dan bangsanya.( Nasakom)[2].
Tapi Beliau lupa bahwa kepercayaan kepada historis matersialisme, yang
melahirkan konsepsi Nasakom itu akhirnya akan memporak-porandakan
kepercayaannya kepada Tuhan yang Maha Esa dan Nasionalisme Pancasilaisnya,
sebagaimana hubungannya dengan Ibu Inggit Ganarsih pun memutuskan perkawinannya
dengan Utari, dan Hubungannya dengan Hartini kemudian menjurangkan pertaliannya
dengan Ibu Fatmawati.[3]
Historis Materialisme merupakan satu
kesatuan dengan dialektika materialisme
dalam Filsafat Ilmu Karl Marx, yang kemudian dikongkritkan
pelaksanaannya oleh Lenin. Dari Sumber ideologi
inilah partai komunis menggariskan tujuan dan cita-cita politiknya.
Dalam dialektika materialisme diajarkan bahwa segala sesuatu yang ada ini tidaklah bersumber dai
Sumber segala ada, Yakni Tuhan. Melainkan hasil perkembangan dialektis dari
sesuatu yang materiil atau jasmaniah sifatnya.
Dialektis maksudnya perkembangan menuju
ketaraf yang lebih tinggi dengan melalui pertentangan. Dalam rangka
perkembangan dialektis materialisme ini akhirnya nanti terwujudlah manusia.
Menurut istilah mereka”kerjalah yang menciptakan manusia” ( Labour Created Man
), dan bukan Tuhan. Karena dalam perkembangan materi itu , akhirnya terwujudlah
makhluk yang sedikit demi sedikit dapat melepasakan tangannya dari keharusan
menjaga badannya. Sehingga tangannya ini digunakan untuk bekerja.dan kegiatan
yang bernama kerja ini dapat merubah susunan otak dan syaraf-syarafnya. Dialektika
materialisme tidak mengenal adanya Tuhan. Jadi jelas bahwa Konsep serta
ideologi partai komunis bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, yang
mengakui adanya kekuasaan Tuhan. Moh. Hatta sebagai teman seperjuangan Soekarno
sendiri pernah mengutuk Ide Nasakom tersebut.[4]
Kesalahan Bung karno adalah tidak mau
belajar dari sejarah. Beliau tahu sendrii. Bahwa PKI Muso hendak merebut
kekuasaan. Dia Sendiri sudah mengutuknya.[5]Apa
Dia membedakan PKI Muso dengan PKI Aidit ? aneh kalau demikian karena seharusnya
Dia mengetahui dari tulisan-tulisan dan omongan tokoh-tokoh PKI Aidit, bahwa
mereka menganggap dirinya sebagai penerus Muso. Bukankah jalan baru Republik
Indonesia yang diberikan oleh Muso sebagai haluan pedoma perjuangan partai
tetap dijadikan sebagai pegangan oleh PKI Aidit dan selalu ditonjol-tonjolkan
dalam tulisan-tulisannya, misalnya dalam pelajaran dari sejarah PKI?.
Tentu presiden juga pernah tau dan
mebaca buku-buku Aidit, yang membela mati-matian pemberontakan madiun , yakni
“Menggugat eristiwa Madiun” Buku Putih” dan “ Konfrontasi perang Madiun dan
Peristiwa Sumatra “Kalau Dia tidak melihat dan mengetahui adanya benang merah yang menghubungkan antara
PKI Aidit dan PKI Muso. Dan jika Dia tahu lalu mengapa Dia tetap gigih
merangkul PKI ? Ada dua Kemungkinan. Yang pertama Percaya akan kerjasama PKI.
Tetapi kemudian termakan oleh partai itu sedangkan untuk kemungkinan yang kedua
Dia Sudah menjadi satu dengan mereka . namun untuk kemungkinan yang kedua ini
adalah yang keliru.
Karena bagaimanapun orang seperti
soekarno yang dari masa pemuda hingga tuanya memperjuangkan Kemerdekaan dan
kedaulatan Indonesia, serta Orang yang memiliki budi dan kepribadian luhur dn
diimbangi dengan pngethuan yang lebih dari rakyat Indonesia ada umumnya, hal
ini sangat mustahil bila Soekarno menggabungkan dirinya dengan PKI Aidit.
Sehingga yang benar adalah bahwa
Soekarno ingin mengimbangi kekuatan ABRI yang pada waktu itu begitu berpengaruh
agar tidak mengancam kekusaan serta legitimasi Soekarno sebagai satu-satunya penguasa
besar Revolusi Indonesia. [6]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa paling tidak menurut anggapan presiden
Soekarno sendiri bahwa di bukan seorang komunis[7]
dalam artian anggota PKI Dia masih
membedakan dirinya dengan mereka yang menjadi penganut Marxisme- Leninisme.
Mengingat hal ini maka kemungkinan kedua diatas dapat di kesampingkan. Oleh
karena itu maka mari kita menganalisa kemungkinan yang pertama. Tidak ada
kiranya orang yang menyangsikan bahwa seorang Soekarno pada zaman pergerakan
Nasional sangat gigih perjuangannya sebagai seorang nasionalis. Banyak pula pada waktu itu
kesulitan-kesulitan yang dideritanya. Ia pun beberapa kali berusaha menyatukan
keretakan didalam tubuh pergerakan nasional. Dalam semua usahanya itu Dia
merasa dirinya sebagai orang yang kuat, yang pasti mampu untuk menyatukan semua
kekuatan yang bagaimanapun saling memiliki pertentangan yang sangat tinggi.[8]
Comments
Post a Comment